Aku Tidak Dapat Mengatasinya Sendirian
Beberapa orang mengatakan bahwa depresi pasca melahirkan
dapat diatasi sendirian, kita tidak membutuhkan bantuan orang lain, depresi itu
hanya ada dalam pikiran sendiri, mengada-ada dan dapat dilawan dengan kekuatan
pikiran ibu sendiri, keimanan yang tangguh dan kesabaran, depresi akan hilang
dengan sendirinya. Percayalah bahwa saya dahulu adalah satu dari
banyak ibu yang menganut prinsip-prinsip di atas. Saya membiarkan depresi pasca
melahirkan saya tanpa tertangani dan ini membuat saya hampir terbunuh
karenanya, dan ya, saya juga nyaris membawa serta putri saya dalam rencana
bunuh diri saya 4 tahun yang lalu.
Saya terlahir dari keluarga yang broken home, kerasnya masa kecil
saya, menjadi korban bullying dan pelecehan seksual saat remaja, meraih
beasiswa, menjadi asisten dosen, bekerja saat kuliah, mendirikan sekolah buat
anak-anak jalanan membuat saya merasa menjadi sosok yang kuat berdiri., toh
nyatanya saya baik-baik saja kok, tanpa dukungan psikologis dari orangtua saja,
walaupun pada saat remaja ketika orangtua saya bertengkar hebat, saya beberapa
kali melukai diri, Yes, itu adalah tanda depresi saya sudah ada sedari dulu,
but it was too late for me to know, and nobody told me. I was so alone.
Ok, then, saya tumbuh jadi seorang wanita yang sangat perfeksionis.
Ketika saya menikah dan hamil untuk pertama kalinya saya sudah menjadi istri
yang idealis karena lingkungan dan diri yang menuntut saya seperti itu.
Hingga saya mengalami satu kejadian yang merobohkan kekuatan yang saya bangun selama ini, bayi saya meninggal dalam kandungan saat ia beranjak 7 bulan. Dunia saya runtuh, saya kehilangan arah, impian saya sirna dalam sekejap, saya menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kematiannya, lebih dari itu rasa cinta saya kepada anak itu sangat menyiksa saya. Segera setelah kepergiannya saya mengalami gejala-gejala depresi seperti insomnia, tidak nafsu makan, menangis seharian, marah dan berteriak hingga berhalusinasi bahwa bantal dan guling adalah bayi saya, saya juga mendengar suara bayi menangis tiap malam. Saya sangat kehilangan dirinya hingga saya sedih setelah melihat wanita hamil atau ibu yang menggendong bayi laki-lakinya. Kejadian itu telah mengubah saya menjadi wanita yang rapuh dan tidak berdaya.
Hingga saya mengalami satu kejadian yang merobohkan kekuatan yang saya bangun selama ini, bayi saya meninggal dalam kandungan saat ia beranjak 7 bulan. Dunia saya runtuh, saya kehilangan arah, impian saya sirna dalam sekejap, saya menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kematiannya, lebih dari itu rasa cinta saya kepada anak itu sangat menyiksa saya. Segera setelah kepergiannya saya mengalami gejala-gejala depresi seperti insomnia, tidak nafsu makan, menangis seharian, marah dan berteriak hingga berhalusinasi bahwa bantal dan guling adalah bayi saya, saya juga mendengar suara bayi menangis tiap malam. Saya sangat kehilangan dirinya hingga saya sedih setelah melihat wanita hamil atau ibu yang menggendong bayi laki-lakinya. Kejadian itu telah mengubah saya menjadi wanita yang rapuh dan tidak berdaya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga saya hamil Hana dan
melahirkannya, dan depresi itu tidak menghilang, ia semakin bertambah parah
setiap bulannya, ibarat tanaman yang diberi pupuk dan air, depresi itu
bertambah besar dan besar, kejadian-kejadian pasca melahirkan Hana, konflik
dengan ortu, mertua, ASI tidak lancar, pindah rumah, saya tidak bekerja lagi,
perubahan bentuk tubuh hamil dan melahirkan, masalah ekonomi, dan suami yang
tidak paham memberikan kekuatan untuk depresi pasca melahirkan saya, ia tumbuh
subur menguasai pikiran dan perasaan saya.. Energi saya bak terhisap oleh
vakuum cleaner, mandi saja terasa berat. Kendati demikian saya tetap mengurus
Hana seorang diri. Rumah saya dua kali hampr terbakar karena saya menjadi
pelupa. Dan dampak paling mengerikannya adalah saya ingin memberikan Hana
kepada keluarga lain yang menyayanginya, bukan karena saya tiidak cinta padanya
tapi karena saya takut melukainya. Hingga akhirnya saya berniat menghabisi
nyawa saya dan Hana di sebuah danau dan itu rencana digagalkan oleh suami
saya..
Pada titik itu suami saya sudah jenuh dengan keadaan saya, kami
sering bertengkar hebat karena saya dan suami sama-sama tidak tahu apa yang
sedang terjadi sebenarnya. Ia pernah bilang saya kurang iman, mengada-ada,
lemah, manja dan tidak bertanggung jawab..Seorang teman yang peduli prihatin
terhadap kondisi jiwa saya yang selalu berupaya membahayakan diri sendiri, ia
juga menaruh empati kepada Hana yang akan terkena imbas akibat depresi saya.. I
don't want to wait anymore, I have to do something. Saya dan suami memutuskan
untuk menghadiri pertemuan di komunitas kesehatan jiwa dan mengunjungi
psikolog. Yes, saya didiagnosa mengalami depresi berat pasca melahirkan. Butuh
lebih dari du tahun saya bangkit dari depresi pasca melahirkan dengan
bantuan suami, psikolog, dan teman-teman di komunitas, sampai akhirnya saya mendirikan MotherHope Indonesia tahun 2015.
Satu hal yang membuat saya membiarkan depresi itu berkembang
karena ketidakmampuan saya menerima keadaan, saya keras kepala dan sangat
perfeksionis, saya menganggap bahwa menjadi ibu yang kuat artinya saya harus
berjuang sendirian, berpeluh darah dan keringat karena surga ada di telapak
kaki ibu. Ibu saya adalah role model bagi saya, saya ingin menjadi ibu yang
hebat dan tangguh, saya tidak boleh sakit, memangis apalagi depresi. Saya tidak
membiarkan suami saya tahu keadaan saya, saya marah ketika ia membantu saya
mengurus Hana dan membersihkan rumah. Budaya patriarki yang kami anut
menghancurkan jiwa saya. Saya ibarat sapi perah yang harus hamil melahirkan
tetapi tidak ada yang mengerti dan membiarkan saya untuk setidaknya mengeluh
dan istirahat, tetapi bagai mesin sebuah pabrik, saya tidak boleh berhenti,
sangking capeknya, saat depresi berat, hanya kematian yang mampu memberhentikan
saya, dan saya tahu saya keliru saat itu. Tapi saya tidak mampu berbuat
apa-apa. Setelah depresi saya pulih, saya tahu bahwa saat itu saya dalam
kondisi yang parah dan membutuhkan bantuan segera dari psikolog maupun
psikiater.
Saya menatap mata Hana dengan penuh kasih dan membiarkan orang
lain membantu saya. Saya melepas ego saya dan jubah kebesaran saya sebagai
seorang ibu demi putri saya yang saya cintai. Saya berkata kepada Hana “mama
tidak dapat mengatasinya sendirian, Hana, mama ingin cepat pulih untuk kamu”
Saya berbicara pada suami tentang gejala depresi saya dan ia
terenyuh, saya berkata bahwa saya sudah tidak sanggup lagi menampung beban ini,
tolong selamatkan aku dari ancaman bunuh diri yang berteriak-teriak ditelingaku
mengatakan aku tidak berguna dan ibu yang jahat, tolong selamatkan nyawa Hana
dari pikiranku yang buruk, bawa aku ke psikolog, karena keluargaku tidak setuju
aku berobat ke psikiater, aku takut keluargaku meninggalkanku.
Saya berserah diri pada
suamiku, pada takdir, pada Allah, dan aku melakukan apa yang aku bisa, kami
mengunjungi support group dan psikolog berrkali-kali hingga sekarang. Bosan?,
sudah pasti, ada kalanya aku ingin menyerah dan berhenti, tetapi demi Hana, aku
harus tetap bertahan dan berproses.
Dear para ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan
ada saatnya kau tidak lagi dapat mengendalikan pikiranmu, ada saatnya kau berusaha keras sekuat tenagamu, tapi depresi itu tetap ada..
Aku tahu kau telah berusaha setengah mati untuk lepas dari depresimu, aku tahu kau telah mencobanya beberapa kali, mulai dari pengobatan herbal, jalan-jalan, berpikir positif, dan sebagainya, tapi ketika kau mengalami depresi sedang dan berat itu semua hanya sementara.
ada saatnya kau tidak lagi dapat mengendalikan pikiranmu, ada saatnya kau berusaha keras sekuat tenagamu, tapi depresi itu tetap ada..
Aku tahu kau telah berusaha setengah mati untuk lepas dari depresimu, aku tahu kau telah mencobanya beberapa kali, mulai dari pengobatan herbal, jalan-jalan, berpikir positif, dan sebagainya, tapi ketika kau mengalami depresi sedang dan berat itu semua hanya sementara.
Dear para ibu
aku tahu kau berusaha untuk menjadi ibu yang kuat dan tangguh, aku tahu kau sangat menyayangi anak-anakmu, aku tahu kau telah berusaha menjadi ibu yang baik, mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, memdidik dan mebesarkan serta mengurus rumah, memasak, dan melayani suami. Tetapi ada kalanya ketika kau mengalami stress dan depresi kau perlu mengatur prioritas, kau perlu mengutamakan kesehatan fisik dan jiwamu sambil mengurus anak-anak, Bu, tidak sempurna itu tidak membuatmu cacat sebagai ibu, tidak membuatmu gagal atau buruk. Itu artinya kau adalah manusia biasa yang tidak dapat melakukan segalanya dalam satu waktu dengan sempurna. Memiliki depresi tidak membuatmu menjadi ibu yang tidak berguna karena PPD dapat disembuhkan.
aku tahu kau berusaha untuk menjadi ibu yang kuat dan tangguh, aku tahu kau sangat menyayangi anak-anakmu, aku tahu kau telah berusaha menjadi ibu yang baik, mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, memdidik dan mebesarkan serta mengurus rumah, memasak, dan melayani suami. Tetapi ada kalanya ketika kau mengalami stress dan depresi kau perlu mengatur prioritas, kau perlu mengutamakan kesehatan fisik dan jiwamu sambil mengurus anak-anak, Bu, tidak sempurna itu tidak membuatmu cacat sebagai ibu, tidak membuatmu gagal atau buruk. Itu artinya kau adalah manusia biasa yang tidak dapat melakukan segalanya dalam satu waktu dengan sempurna. Memiliki depresi tidak membuatmu menjadi ibu yang tidak berguna karena PPD dapat disembuhkan.
Kau tidak perlu menunggu terlalu lama hingga depresi itu hilang
sendiri. Kau tidak perlu menunggu terlalu lama hingga terjadi sebuah tragedi,
kau tidak perlu menunggu hinnga bercerai dan rumah tanggamu berantakan, kau
tidak perlu menunggu hingga putrimu terlambat bicara atau keterlambatan lainnya,
kau tidak perlu menunggu lama untuk waktu yang terbuang sia-sia, dan terutama
karena aku tidak mau kau menderita lebih lama lagi karena depresi pasca
melahirkan. Tidak ada salahnya jika kau menemui psikolog ataupun psikiater.
Memang kesembuhan itu tidak instan, kau diajari untuk berproses, kau diajari
untuk mengubah tingkah lakumu dan cara berpikirmu, kau diajarkan untuk
menentukan prioritas dan memaafkan diri, kau diajarkan untuk mengatasi masalah.
Begitu juga ketika kau mengonsumsi obat-obatan media, maka tidak akan
menjanjikan kesembuhan yang instan dan cepat, ada waktu supaya obat-obatan itu
bereaksi dengan tepat. Setidaknya kau telah berusaha.
Bu, tidak apa-apa jika kau tidak dapat mengatasinya sendirian,
asking for help when you have Postpartum Depression is not a sign of weakness.
It is a sign of wisdom.
Depresi bukanlah kelemahan karakter dan keinginanmu bu, ini adalah
penyakit yang dapat ditangani dan disembuhkan. Jadi jangan membuang waktu dengan
percuma. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan memiliki depresi.
Anak-anakmu butuh ibu yang sehat jiwanya, bu. Tidak apa-apa jika kini kau belum
pulih optimal, karena Tuhan menghargai usahamu, Tuhan senang karena kau mau
bangkit dari keterpurukan meski dengan bantuan orang lain disekitarmu.
Biarkanlah suami dan teman-teman membantumu, buanglah rasa takut
ke psikolog atau ke psikiater demi anak-anak tercinta. Maafkanlah orang yang
belum memahami kondisimu, bu, jangan apatis, karena masih banyak orang dimuka bumi ini peduli pada kondisimu. Ribuan ibu mengalami depresi postpartum, WHO menyebutkan 1 dari 6 ibu mengalami depresi pasca melahirkan. Tapi teruslah berjalan mencari dukungan itu,
kelak akan kau temui.
Itulah mengapa saya dan teman-tema relawan, psikolog ingin memberi dukungan kepada istri dan suaminya, karena kami sadar bahwa dukungan dari suami sangat dibutuhkan istrinya, rasanya terlalu kejam jika kita menginginkan ibu yang depresi sedang atau berat untuk berjuang sendirian.
Melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada mendiamkan depresi tersebut, karena kita tidak tahu sampai kapan kita mampu menahan dorongan untuk bunuh diri, dan bunuh diri ibarat pencuri, bisa datang ketika orang disekitar kita lengah, tidak apa-apa, ibu tidaklah lemah dengan mencari bantuan, itu artinya ibu bijkasana dan tahu yang terbaik untuk dilakukan saat ini. Minum obat anti dep juga ada resikonya, tapi coba kita berpikir lebih banyak mana manfaat dan resikonya, konseling dan terapi dengan psikolog juga tidak serta merta ibu langsung sembuh, tapi lebih dari itu setidaknya kita berusaha dan tidak ada usaha yang sia-sia, biasanya hasilnya akan terlihat belakangan. Do something is better than do nothing. Your life and your baby's are so precious.
Melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada mendiamkan depresi tersebut, karena kita tidak tahu sampai kapan kita mampu menahan dorongan untuk bunuh diri, dan bunuh diri ibarat pencuri, bisa datang ketika orang disekitar kita lengah, tidak apa-apa, ibu tidaklah lemah dengan mencari bantuan, itu artinya ibu bijkasana dan tahu yang terbaik untuk dilakukan saat ini. Minum obat anti dep juga ada resikonya, tapi coba kita berpikir lebih banyak mana manfaat dan resikonya, konseling dan terapi dengan psikolog juga tidak serta merta ibu langsung sembuh, tapi lebih dari itu setidaknya kita berusaha dan tidak ada usaha yang sia-sia, biasanya hasilnya akan terlihat belakangan. Do something is better than do nothing. Your life and your baby's are so precious.

Komentar
Posting Komentar